Oleh: wawantbh | Maret 30, 2010

Bagaimana Mengasuh Anak usia 6 tahun

Assalamu’alaikum WR.WB.

Saya seorang ibu dari seorang anak perempuan berusia sekitar 6 tahun. Selama ini saya merasa kurang optimal mendampingi putri saya, banyak hal yang terlewatkan dikarenakan saya juga bekerja. Setiap harinya bisa dihitung kira-kira berapa lama kami bersama…mungkin sekitar lima jam tapi efektifnya hanya sekitar satu sampai dua jam, dalam beberapa jam tersebut nampak sekali bahwa dia selalu mencari-cari perhatian saya meskipun sebenarnya dia bisa melakukan apa yang dimintainya dan menurut saya dia terlihat menunjukan “kemanjaannya” jika ada saya. Terbersit juga rasa sedih yang mendalam namun kami mencoba mengatasinya meskipun banyak hambatannya terutama karena keterbatasan kami yang masih belajar menjadi orangtua. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan;
1. Bagaimana melatih kemandirian seorang anak pada usia tersebut ?
2. Bagaimana mengembangkan rasa percaya dirinya ?, karena dia terlihat “jaim” jika diluar rumah nampak malu-malu dan sukar untuk memulai sesuatu padahal kalau di rumah Subhanallah dia nampak luar biasa dan sangat aktif sekali…
3. Bagaimana saya bisa mengukur diri apakah telah berperan sebagai ibu yang “benar” untuknya ?
Demikian pertanyaan saya, terimakasih sebelumnya.

Wassalamu’alaikum Wr Wb.
No Name

JAWABAN:

Wa alaykum salam wr.wb.

Sahabat penanya yang baik,

meskipun informasi yang anda berikan tentang data hubungan anda dan suami serta hubungan komunikasi dengan putri anda belum terlalu lengkap untuk kasus yang anda tanyakan, tapi kami mencoba memberikan jawaban, semoga bermanfaat.

  1. Seorang anak pada dasarnya selalu dilengkapi perangkat kemandirian ketika lahir. Nafs (jiwa)nya yang suci, fithrah dirinya, serta para malaikat hafadzah yang bertugas menjaganya memberikan ‘potensi’ kemandirian dalam menghadapi kehidupan di dunia ini. Seiring dengan usia jasadnya yang bertambah, interaksinya dengan dunia seisinya (terutama kedua ortunya yang memiliki ikatan terdekat dengan dirinya) semakin mempengaruhinya. Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menumbuh-kembangkan aspek kemandiriannya, a.l.:
    1. Memberikan keteladanan yang tidak dibuat-buat tentang kemandirian oleh ortunya serta orang-orang yang dekat dengan sang anak. Keteladanan tersebut akan memupuk potensi kemandirian anak yang sudah dianugrahkan Allah kepada sang anak. Nasihat  atau anjuran verbal akan menjadi semakin efektif jika perbuatan kita sebagai ortunya memberikan contoh nyata dari nasihat/anjuran tersebut. Sebaiknya dihindari porsi banyak nasihat yang disertai dengan tindakan kita yang kontra produktif dengan isi nasihatnya.
    2. Kita hendaknya melatih kemandiriannya sesuai dengan tingkat kemampuan usianya. Masa kanak-kanak adalah masa menyerap suatu contoh perbuatan yang nyata/tidak abstrak. Pada masa tersebut banyak fungsi fakultas organ tubuh yang sedang tumbuh, juga penalaran serta emosi.

Misalnya bila kita ingin melatih kemandirian dalam hal buang air kecil, sebaiknya kita latih dia setahap demi setahap, dan berikan toleransi dengan penuh kesabaran dan kasih sayang bila dia sering melakukan kesalahan, tetapi mulai juga perkenalkan ketertibannya dalam sebuah perbuatan.

  1. Rasa percaya diri anak (sebagaimana kebanyakan kita) akan tumbuh dengan baik bila sang anak sering memperoleh kepercayaan dari kita dan orang-orang di dekatnya.

Tentunya sebagai ortu kita sebaiknya dapat mengukur kemampuan anak-anak kita, sehingga dalam memberikan tugas, sudah kita perhitungkan hal-hal yang kita perkirakan dia mampu melakukannya dan mana yang tidak. Sebaiknya kita hindari memberikan komentar yang bisa dimaknai oleh anak, bahwa kita selalu tidak mempercayainya.

  1. Peran kita sebagai ibu/ortu “yang benar” bagi anak-anak kita sebetulnya kriteria pastinya adalah  unik untuk setiap pasangan ortu-anak, tapi secara umum hal itu ditandai dengan bertumbuh-kembangnya fithrah diri sang anak secara optimal. Nah, ada beberapa langkah  yang dapat kita lakukan untuk ‘meraba’ apakah kita sudah berada di ‘track yang benar’ sebagai ortu bagi anak kita, a.l.:
    1. Untuk mengetahui hal-hal yang unik dalam diri hendaknya kita berjuang dengan lebih keras lagi dalam memerangi syayi’ah (sisi jahat) dalam diri kita agar hasanah (sisi kebaikan, kebenaran) mendominasi shudur/dada kita, sebab data diri yang unik dan haq dalam diri kita hanya dapat dikenali oleh qalb dalam shudur yang didominasi oleh hasanah dalam diri kita.
    2. Sembari berjihad memenangkan hasanah atas syayi’ah dalam diri, kita pun bercermin pada biografi dan keteladanan para ortu yang telah berhasil memerankan tugasnya sebagai ortu yang mendidik putranya dengan benar. Namun, yang harus kita ingat bahwa referensi dari luar diri kita sifatnya adalah pelengkap informasi dari internal diri.

Sebenarnya, tidaklah terlalu penting kita tahu posisi pemeranan tugas kita sebagai ortu, tetapi yang lebih penting adalah semangat kita untuk selalu memperbaiki diri kita dalam memerankan tugas sebagai ortu yang menemani sang anak dalam menumbuh-kembangkan fithrah dirinya.

Wallahu a’lam bi shawwab.

Tri Boedi Hermawan

sumber gambar:


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: